Padang indah? Ya...
Sebuah padang hijau indah menghampar di hadapanku..
Kupadang dengan wajah yang berbinar.. Meluruhkan hatiku yang sedang pilu..
Berlarilah aku, menyusuri helai demi helai dedaunan yang tersapu oleh kakiku
Menyanyikan gemerisik kebahagiaan dalam hatiku
Angin pun terpecah seiring dengan cepatnya ku berlari..
Hei! Apa yang kutemukan..
Kupu kupu yang saling berlarian kesana kemari.. Berkejar kejaran bagaikan orang orang yang sedang jatuh cinta...
Pohon rindang tersenyum di hadapanku, mengajakku untuk berbaring di bawah dedaunannya yang menyejukkan
Mentari pun seolah cemburu dengan sang pohon yang lebih memikat diriku daripada dirinya..
Betapa.. Ku ingin terus berlari.. Terus berlari dalam padang hijau ini..
Menyisir rerumputan, menyibak keindahan tiada tara yang menyejukkan mataku...
Meraih matahari yang terus menggodaku untuk memeluk dirinya...
Meraih bulan yang terus mencumbuku dalam sinarnya yang lembut..
Meraih awan yang melindungiku dalam pelukannya...
Tiba tiba, aku tersandung oleh sebuah batu dan kepalaku membentur tanah..
Gelap.. ya pandanganku berubah menjadi gelap..
Ketika perlahan, pengelihatanku mulai membaik...
Kurasakan ketakutan..
Ya sebuah ketakutan mencengkram diriku, memeluk diriku dengan erat dan menyeringai bagaikan serigala yang siap menerkamku dan mengigit leherku dengan taringnya..
Aku meronta.. mencoba melepaskan diri.. Terus meronta melarikan diri dari ketakutan itu..
Nafasku tersengal sengal.. Keringat membanjiri bajuku yang kotor dan lusuh, aku tidak tahu harus belari di dalam sebuah kegelapan yang tiada akhir ini..
TIDAAAAAAAAAAAAAAAK!
Akupun menjerit dalam kesendirianku.. Meronta, terus meronta dalam rasa sakit ini..
" Inilah realita hidupmu.... "
TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK!
" Inilah hidupmu... Heheheheh.."
TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK! TIDAAAAAAAK TIDAAAAAAAAAAAAAAAK!!!
Sang keputusasaan menghampiri diriku dengan jubah hitamnya, menyelimutiku, dan mengusap wajahku pelan sembari membisikkan sesuatu....
" Kenapa kau tidak mati saja? Bukankah mati akan memperlancar hidupmu? Kau tidak perlu lagi menderita seperti ini... Beban pikiranmu banyak.. Masalahmu banyak..."
Aku terbius... terbius sementara dengan kata kata sang keputusasaan...
Tapi.. Aku kembali lagi berlari.. Menjauhi sang keputusasaan yang tertawa terkekeh kekeh melihat semua kebingunganku yang semakin memuncak...
Tak kusadari... Aku berlari tanpa melihat apa apa, depan mataku adalah sebuah samudera dengan kedalaman yang tak terhingga.. begitu kelam.. menarik diriku yang tercebur ke dalamnya...
Nafasku, aku kesulitan untuk bernafas..
Aku terus meronta ingin ke permukaan, tapi betapa samudera ini begitu ingin menarikku ke dalam dasarnya dan membunuhku perlahan sembari kehilangan nafas demi nafas...
Akankah... Aku berakhir disini?
Nafasku....
Pengelihatanku semakin pudar...
-To be continue-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar